Jum. Agu 6th, 2021

Dua Hal Penting yang Disampaikan Imam Al-Ghazali dalam Karya Terakhirnya

CorongIslam,-Masa-masa lanjut usia adalah masa puncak kematangan memikirkan tentang perjalanan hidup yang dilalui seseorang. Sebab, saat seseorang berusia lanjut, ia berarti sudah banyak menghabiskan umurnya dalam menjalani manis dan pahit kehidupan. Bila ia seorang intelektual, tentunya ia sudah mengetahui banyak hal. Juga telah mempraktekkan serta membuktikan banyak hal yang diketahuinya. Tak terkecuali Imam al-Ghazali: sosok intelektual Islam terkemuka dalam berbagai bidang.

Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih dikenal dengan Imam al-Ghazali, dan merupakan penulis kitab Ihya’ Ulumiddin wafat pada tahun 505 H. di usia 55 tahun. Beliau memiliki karya yang amat banyak dan sebagian di antaranya menjadi rujukan oleh para ulama. Baik ulama yang hidup hampir sezaman dengan beliau, maupun zaman sekarang. Entah itu ulama muslim, maupun non-muslim yang ingin banyak belajar tentang Islam. Konon, banyaknya karya al-Ghazali bila dibandingkan dengan sejumlah hari dimana beliau hidup, beliau berarti menulis empat lembar di setiap harinya.

Karya terakhir Imam al-Ghazali adalah kitab berjudul Minhajul Abidin. Kitab ini tidak ditulis beliau langsung, tapi didiktekan kepada murid beliau yang kemudian menuliskannya. Dalam pendahuluan kitab tersebut, sosok bernama Abdul Malik ibn Abdullah menuturkan, bahwa kitab itu didektekan Imam al-Ghazali kepada dirinya dan merupakan karya terakhir Imam al-Ghazali.

Ada beberapa poin penting yang disampaikan Imam al-Ghazali dalam karya terakhirnya tersebut:

Pertama, tujuan hidup manusia serta jalan menuju Allah sebenarnya sudahlah jelas. Hal ini beliau sampaikan dengan ungkapan:

وما خلق الإنس والجن إلا لعبادته ، فالطريق واضح للقاصدين ، والدليل لائح للناظرين

“Dan tidaklah Allah menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah keepada-Nya. Maka jalan menuju Allah sudahlah jelas bagi yang hendak menuju pada-Nya. Dan petunjuk akan keesaan-Nya sudahlah jelas bagi yang memikirkan akan keesaan-Nya.”

Hal ini, meski sudah dijelaskan oleh al-Qur’an, adalah jawaban dari pertanyaan banyak manusia. Terutama orang yang tidak tumbuh dengan akrab akan ajaran Islam. Sebab susah dan senang, kaya dan miskin, atau rasa bosan akan hidup yang hanya begitu-begitu saja, kadang membuat mereka bertanya-tanya sebenarnya apakah tujuan diciptakannya manusia?

Apakah manusia diciptakan untuk bahagia? Tapi kenapa kadang ada manusia yang hidup kesusahan dan berusaha memperoleh kebahagiaan dengan caranya sendiri, ia selalu gagal? Ada manusia yang ingin bahagia dengan berusaha menjadi kaya. Tapi, ia selalu gagal. Allah memberi tahu bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah. Ibadah memiliki makna luas dan tidak hanya terbatas pada salat, zakat dan haji saja. Tapi, bisa juga dengan sabar serta telaten berbuat baik pada sesama manusia.

Dengan jelasnya tujuan diciptakannya manusia, maka manusia pun tahu bahwa jalan menuju Allah jugalah sudah jelas. Yaitu dengan mempelajari perintah serta larangan Allah. Lalu melaksanakannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Maka, orang yang semisal mempelajari transaksi jual-beli yang halalkan oleh Allah, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Entah saat mempelajari ilmu bisnis atau saat praktek bisnis dengan jujur, maka ia sebenarnya sudah menjalani tujuan hidupnya dengan baik.

Kedua, beribadah adalah buah dari ilmu. Hal ini beliau sampaikan dengan ungkapan:

اعلموا إخوانى أسعدكم الله وإيّاى بمرضاته أن العبادة ثمرة العلم ، وفائدة العمر

“Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku, semoga Allah memberi dirimu dan aku kebahagiaan berupa ridha-Nya, sesungguhnya ibadah adalah buah dari ilmu dan merupakan hal berguna yang lahir dari umur.”

Ungkapan bahwa ibadah adalah buah dari ilmu mengingatkan bahwa ibadah tidak lepas dari ilmu tentang ibadah tersebut. Misalnya, shalat haruslah dilaksanakan dengan keadaan mengetahui mana shalat yang wajib dan mana yang sunnah, mana bagian shalat yang wajib dan mana yang sunnah, dan mana hal-hal yang harus terpenuhi sebelum masuk shalat dan mana yang tidak. Mengapa harus dengan ilmu? Agar tidak sembarangan dalam beribadah. Sebagian ulama bahkan menyatakan, bahwa setiap orang yang beribadah tanpa mengetahui ilmunya, maka ibadahnya tidak diterima.

Selain itu, orang yang berilmu juga harus mau mengamalkan ilmunya, yaitu dengan beribadah. Sebab, apa arti memiliki sebuah pohon bila tidak berbuah atau tidak memiliki manfaat sama sekali untuk kehidupan akhirat. Ilmu agama memang mulia. Tapi, ilmu agama dipelajari tidak untuk ditumpuk atau dikoleksi bak perhiasan. Melainkan agar manusia dapat beribadah kepada Allah dengan baik dan benar.

Ibadah juga merupakan satu-satunya hal berguna yang dihasilkan oleh umur manusia. Sebab manusia memang diciptakan untuk beribadah, dan ibadah pula yang menjadi bekal di kehidupan akhirat. Hal lain selain ibadah pada hakikatnya tidak memiliki manfaat sama sekali melainkan sekedar sebagai cara meghabiskan umur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *